Friday, January 2, 2015

"Have a safe trip"

"Have a safe flight"

Lately, kalimat ini sedang sering diucapkan banyak orang. Saya sendiri lebih suka menyebut "have a safe trip" daripada "have a safe flight". Musibah kan bisa terjadi dimana saja, bukan hanya di atas langit sana ^^

2014 was bad for aviation. Belakangan saya mencoba mengingat sejak kapan saya mulai mengikuti berita tentang kecelakaan pesawat. Mungkin sejak kasus Air France. Dulu tiap kali dengar berita kecelakaan pesawat, rasanya seperti mendengar berita dari belahan dunia yang jauh, yang rasanya hanya terjadi di negara yang letaknya nun jauh di sana, penerbangan dengan rute jarak jauh belasan atau puluhan jam.

Setelah Air France, lalu saya ingat kecelakaan Sukhoi di tahun 2012 juga menyedot perhatian media di Indonesia waktu itu. Lalu yang masih cukup segar di ingatan, hilangnya pesawat Malaysian Airlines MH370 yang terjadi di awal tahun 2014 dengan rute Kuala Lumpur - Beijing. Saya sendiri waktu itu kaget baca beritanya. Rute KL-Beijing terasa sangat umum, negaranya juga bukan negara yang jauh-jauh amat. Masih negara tetangga lah dengan Indonesia. Pelan-pelan, rasanya berita kecelakaan pesawat menjadi hal yang terasa dekat buat saya. Like it could happen to anyone and anywhere.

Di saat orang-orang baru hendak "lupa" terhadap MH370, dunia kembali dikejutkan dengan jatuhnya pesawat MH17 karena ditembak rudal. Waktu baca beritanya, saya bengong. Heran kok ya pesawat bisa sengaja ditembak. Kecelakaan yang sifatnya accidental dan disaster saja rasanya sudah bikin hati sedih. Ini pesawatnya sengaja ditembak. What the...?? Ya katanya sih karena salah sasaran pesawat dan berbagai teori konspirasi lainnya. 

Lalu yang paling baru, AirAsiaQZ8501. Ini lebih bikin syok lagi. Rutenya Surabaya - Singapura, negara favorit orang Indonesia. Beberapa hari sambil mengikuti perkembangan di TV dan social media, saya merenung sendiri. Baru sadar bahwa kematian itu memang tidak ada yang tahu kapan datangnya. Membuat saya jadi berpikir dan memperhatikan orang-orang di sekitar saya. Hari ini saya sibuk mengerjakan ini dan itu, apa besok saya masih bisa melakukan hal yang sama? Bahkan saya jadi berpikir untuk mulai merapikan file-file data proyek yang sedang dikerjakan, in case something happened to me, setidaknya orang yang akan melanjutkan pekerjaan saya nggak bingung-bingung amat. *let's pray that's not gonna happen to me... too fast :)*

Saya mencoba membayangkan untuk menjalani hidup as if today was your last day on earth. Kira-kira apa yang akan dilakukan? Sambil ketik tulisan ini, saya teringat bukunya Mitch Albom yang judulnya "The Five People You Meet in Heaven". Well, maafkan judulnya yang terdengar seperti buku para motivator sukses yang beredar di pasaran ^^ Saya nggak akan lupa buku tipis ini sukses bikin saya menangis sesenggukan waktu pertama kali baca. Menceritakan tentang seorang mekanik biasa yang menghabiskan hari tuanya sebagai maintenance crew di taman hiburan. Di awal buku, langsung diceritakan kalau mekanik ini akan meninggal di taman hiburan tempat dia bekerja. Detik-detik menjelang dia meninggal, mekanik ini bertemu dengan 5 roh dari orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, namun terlupakan begitu saja.. and everything was not always what it seemed :)

Saya jadi berpikir kalau hari ini adalah hari terakhir saya hidup, saya mau ngapain yah dengan orang-orang di sekitar saya? Nope, saya juga belum tahu saya mau ngapain jadi jangan tunggu jawaban saya ^^ Well, I'm not the typical one who love to shower with sugary words and roses. I do what i have to do. But still.. if I have to die, i don't want to die with any regrets :) 

Mengutip dari meme yang lagi ramai dipost di social media,
"Have a safe flight", "I love you", "Take care"
It may sounds not so important, not necessarily to say..
But you'll never know it could be your last good bye..

I guess that's probably true. You'll never know what's your last words for your loved ones.

My heart goes out for #AirAsiaQZ8501
May the souls rest in peace