Natal. Yah, sudah tidak ingat rasanya berapa kali perayaan Natal yang saya lewati setiap tahun. Sejak TK, SD, SMP, SMA saya bersekolah di sekolah Kristen. Saya masih ingat saya mengambil keputusan untuk percaya Tuhan saat duduk di bangku SMP. Sebuah KKR.
Waktu bergulir. Ketika SMA, aktivitas saya padat luar biasa. Senin sampai Sabtu sibuk jadi pengurus OSIS. Seksi Kerohanian. Terdengar berat ya namanya? :) Hari Minggu pun saya sibuk dengan aktivitas di gereja. Sibuk menjadi pengurus gereja dengan segala macam rapatnya itu. Sibuk jadi panitia retreat, sibuk jadi panitia Natal, sibuk jadi ketua majalah gereja, sibuk jadi panitia Paskah, dan lain lain.
Mungkin sejak SMA, mungkin hampir seluruh teman-teman saya mempunyai kesan bahwa saya orang yang sangat "rohani" ya. Di sekolah pun saya ingat saya sangat menjaga tingkah laku. Tidak mencontek ketika ulangan. PR pun rasanya saya tidak mencontek hasil pekerjaan teman.
Waktu bergulir. Ketika SMA, aktivitas saya padat luar biasa. Senin sampai Sabtu sibuk jadi pengurus OSIS. Seksi Kerohanian. Terdengar berat ya namanya? :) Hari Minggu pun saya sibuk dengan aktivitas di gereja. Sibuk menjadi pengurus gereja dengan segala macam rapatnya itu. Sibuk jadi panitia retreat, sibuk jadi panitia Natal, sibuk jadi ketua majalah gereja, sibuk jadi panitia Paskah, dan lain lain.
Mungkin sejak SMA, mungkin hampir seluruh teman-teman saya mempunyai kesan bahwa saya orang yang sangat "rohani" ya. Di sekolah pun saya ingat saya sangat menjaga tingkah laku. Tidak mencontek ketika ulangan. PR pun rasanya saya tidak mencontek hasil pekerjaan teman.
Begitu masuk kuliah, secara perlahan ada regenerasi pengurus di gereja. Para pengurus lama pun pelan-pelan naik ke Komisi Pemuda sambil sesekali masih membantu teman-teman di Komisi Remaja. Pelan dan pelan, saya pun lepas dari segala kepengurusan dan kepanitiaan. Hingga sudah sekitar 5 tahun terakhir ini, saya sudah tidak pernah lagi terlibat dalam kepanitiaan apapun. Total hanya menjadi jemaat biasa yang duduk dan pulang. Tidak banyak bersosialisasi. Ngobrol pun hanya dengan teman-teman yang memang sudah kenal lama dan cukup dekat. Ditawari untuk pelayanan kembali pun saya malas. Rasanya sudah lelah. Seperti merasa bahwa zamannya sudah lewat.
Kalau kata beberapa orang, saya mengalami kekeringan rohani akut. Ya, kondisi dimana saya sudah seperti tanah tandus. Kering. Awalnya saya berusaha memperbaiki kekeringan tersebut. Memaksakan diri saya rutin bersaat teduh kembali, berdoa dengan sepenuh hati, dll. Tapi tetap saja pada akhirnya toh saya kembali malas.
Natal tahun ini sedikit berbeda. Karena saya menimbang-nimbang apakah saya masih bisa disebut beragama Kristen? Rasanya agama Kristen itu hanya sebuah tempelan saja. Label karena saya masih datang gereja setiap Sabtu dan Minggu. Namun hati saya sudah tidak berada di dalamnya. Datang ke gereja hanya karena rutinitas, daripada saya harus menghabiskan waktu 24 jam hanya hidup dengan kedua orang tua saya.
Kepada beberapa teman dekat, saya pernah bercerita bahwa saya sering berpikir saya bisa beragama Kristen sangat mungkin karena saya bersekolah di sekolah Kristen sejak TK sampai SMA. Coba seandainya saya bersekolah di sekolah Buddha atau Katolik, ya mungkin saat ini saya beragama Buddha atau Katolik. Saya mempertanyakan mengapa saya tidak "keluar dari gereja" lalu saya "jalan-jalan" di luar sana, mencicipi satu per satu agama lalu baru memutuskan agama mana yang ingin saya peluk. Ketika saya cerita seperti itu, seorang teman dekat tersenyum dan menjawab,"Bukan kamu yang memilih, tetapi Aku yang memilih."
Kalau kata beberapa orang, saya mengalami kekeringan rohani akut. Ya, kondisi dimana saya sudah seperti tanah tandus. Kering. Awalnya saya berusaha memperbaiki kekeringan tersebut. Memaksakan diri saya rutin bersaat teduh kembali, berdoa dengan sepenuh hati, dll. Tapi tetap saja pada akhirnya toh saya kembali malas.
Natal tahun ini sedikit berbeda. Karena saya menimbang-nimbang apakah saya masih bisa disebut beragama Kristen? Rasanya agama Kristen itu hanya sebuah tempelan saja. Label karena saya masih datang gereja setiap Sabtu dan Minggu. Namun hati saya sudah tidak berada di dalamnya. Datang ke gereja hanya karena rutinitas, daripada saya harus menghabiskan waktu 24 jam hanya hidup dengan kedua orang tua saya.
Kepada beberapa teman dekat, saya pernah bercerita bahwa saya sering berpikir saya bisa beragama Kristen sangat mungkin karena saya bersekolah di sekolah Kristen sejak TK sampai SMA. Coba seandainya saya bersekolah di sekolah Buddha atau Katolik, ya mungkin saat ini saya beragama Buddha atau Katolik. Saya mempertanyakan mengapa saya tidak "keluar dari gereja" lalu saya "jalan-jalan" di luar sana, mencicipi satu per satu agama lalu baru memutuskan agama mana yang ingin saya peluk. Ketika saya cerita seperti itu, seorang teman dekat tersenyum dan menjawab,"Bukan kamu yang memilih, tetapi Aku yang memilih."
Sesaat saya terhenyak. Terdiam. Ya benar juga sih. Kok ya rasanya hebat betul saya yang cuma manusia biasa kok bisa main pilih tuhan mana yang saya mau :) Tapi itu tetap tidak membuat saya berhenti beranggapan bahwa saya bisa beragama Kristen hari ini itu karena saya bersekolah di sekolah Kristen dari TK sampai SMA. Saya ingin berada di satu kondisi dimana ketika saya memilih sebuah agama, itu karena saya yakin, mantap, dan sadar dengan apa yang menjadi pilihan saya. Bukan karena semata saya tumbuh besar di lingkungan sekolah Kristen.
Ada sebuah keinginan di dalam hati saya untuk melepas label agama Kristen ini. Saya juga merasa berat dengan label "seharusnya orang Kristen itu..." Entahlah, saya muak mendengar kalimat itu. Saya benci diatur. Yah, ini mungkin sedikit berkaitan dengan hubungan saya dengan ibu saya yang juga rusak. Tidak perlu dijelaskan di sini. Terlalu panjang.
Yah, bukan berarti ketika saya bilang saya mau melepas label agama Kristen itu, saya lantas menjadi suka dugem, seks bebas, mencuri atau menipu, dll. Tidak sih, saya punya borderline sendiri dalam hal-hal yang bisa saya lakukan dan hal-hal yang saya memilih untuk tidak melakukan. Namun entahlah.. Masih ada keraguan untuk melepas label agama Kristen itu. Masih ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa.
Kadang saya juga bingung di hari Natal ini saya melihat banyak sekali teman-teman yang berfoto dengan caption Christmas Dinner. Apa artinya? Saya kenal dengan mereka dan saya juga tahu mereka bukan orang yang rutin datang ke gereja setiap minggu. Mereka juga mungkin tidak memiliki pengetahuan rohani yang cukup dalam seperti para aktivis di gereja. Lantas apa artinya Christmas Dinner tersebut? Lengkap dengan fashion yang lavish ala Natal disertai dengan acara tukar kado.
Kalau dengan alasan keakraban dan kekeluargaan, bukankah sudah ada Thanksgiving Day? Memang sih di Indonesia tidak mengenal hari Thanksgiving, tapi ada yang namanya Hari Raya Lebaran atau Imlek. Rasanya lucu saja melihat foto-foto tersebut. Ah, saya tidak ingin menghakimi siapa pun. Tulisan ini hanya ungkapan kegalauan hati saja karena bingung mau melabeli diri sebagai apa? Kristen? Ateis? Liberal?
Saya sempat memiliki sebuah teori. Apa karena saya merasa saya sudah tahu hampir semua teori-teori menjadi orang Kristen yang baik? Namun akhirnya karena tidak pernah dipraktekkan dan berbagi pada lingkungan sekitar atau orang terdekat, akhirnya hanya mengendap menjadi batu bara yang dingin, yang pada akhirnya tidak berfungsi apa pun.
Tanggal 24 malam biasanya akan jadi malam Natal yang ramainya bukan main. Bertahun-tahun saya selalu datang di perayaan malam Natal tgl 24. Tahun ini tidak. Saya malas ikut. Saya hanya berpikir pasti ramai sekali di gereja. Well, mungkin karena saya juga tidak punya komunitas tetap di gereja, semakin menambah rasa malas saya juga. Aneh juga saya datang sendiri atau dengan ibu saya, tapi tetap saja saya merasakan kesendirian di tengah keramaian yang begitu padat.
Beberapa teman yang satu angkatan dengan saya ketika menjadi pengurus pun satu per satu menghilang dari gereja. Ada yang sudah menikah dan ikut suami lalu rumahnya menjadi terlalu jauh untuk datang ke gereja. Ada yang karena merasa sudah tidak punya teman lalu mendadak menghilang dari gereja. Ada yang pindah ke luar kota karena harus meneruskan bisnis keluarga dan tidak punya waktu ke gereja lagi karena hari Minggu pun tetap bekerja. Ada yang sudah berkeluarga, masih datang ke gereja, namun sudah tidak pelayanan lagi, mendedikasikan seluruh waktunya untuk keluarga nampaknya. Ada yang sudah menikah, sesekali ke gereja, dan hidupnya dipersembahkan untuk membahagiakan sang istri.
Tentu masih ada beberapa teman dua tiga orang yang masih rutin ke gereja seperti saya dan mereka masih pelayanan. Terhadap mereka, saya harus angkat topi karena saya sendiri saja seperti merasakan kaki kanan saya sudah berada di luar gereja. Entah ada apa dengan kaki kiri saya yang masih enggan untuk melangkah maju.
Tentu masih ada beberapa teman dua tiga orang yang masih rutin ke gereja seperti saya dan mereka masih pelayanan. Terhadap mereka, saya harus angkat topi karena saya sendiri saja seperti merasakan kaki kanan saya sudah berada di luar gereja. Entah ada apa dengan kaki kiri saya yang masih enggan untuk melangkah maju.
Yah, jika ada yang tidak sengaja membaca tulisan ini dan ingin berdoa untuk saya, tolonglah doakan saya. Saya sendiri tidak suka dengan keadaan galau seperti ini :)
Akhir kata, Merry Belated Christmas :)
No comments:
Post a Comment